Tips Penting Menghadapi Covid-19

Pertanyaan:
“Bagaimana cara melakukan pemeriksaan pada pasien Covid-19 yang tidak memiliki gejala? Selanjutnya, bagaimana penanganan pasien Covid-19 yang kondisinya berat dan harus dirujuk ke rumah sakit, tetapi RS-nya penuh?. Apa yang bisa dilakukan sebagai penanganan sementara pasien tersebut di puskesmas?”
– Dr. Y

Covid-19 adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Meskipun sudah setahun berupaya menekan angka penularan, angka penularan masih cukup memprihatinkan. Indonesia menjadi salah satu negara yang kesulitan menangani krisis ini, dengan angka terinfeksi tertinggi se-Asia Tenggara.

Tingginya kejadian infeksi tanpa gejala pada Covid-19, membuat transmisi penyakit menjadi sulit dideteksi. Itulah alasan dokter umum harus selalu waspada serta mengikuti protokol kesehatan, seperti menggunakan masker dan rajin mencuci tangan. Demi menurunkan angka penyebaran Covid-19, dokter umum sebagai tenaga kesehatan harus mendukung 3T, yaitu testing, tracing, dan treatment.

Pasien Covid-19 tanpa gejala sebaiknya diperiksa secara lengkap, baik tes swab, CT toraks, maupun pemeriksaan laboratorium agar kondisi pasien dapat dievaluasi secara menyeluruh. Pasien tanpa gejala yang terlihat baik-baik saja, tetapi hasil pemeriksaan darah atau CT scan toraksnya buruk, rentan mengalami perburukan secara cepat. Oleh karena itu, pasien tidak diperbolehkan untuk isolasi mandiri untuk mencegah kematian.

Setelah menemukan pasien positif Covid-19, perlu dilakukan tracing dengan menelusuri komunitas pasien dan penanganan (treatment) kepada pasien. Untuk penanganannya, dokter harus mengidentifikasi terlebih dahulu derajat Covid-19 yang dialami pasien. Covid-19 diklasifikasikan menjadi ringan, sedang, dan berat. Menurut protokol kesehatan, pasien Covid-19 derajat sedang hingga berat harus dirujuk dan dirawat di rumah sakit (RS) atau fasilitas rujukan Covid-19. Namun, realitanya tidak semudah itu.

Fasilitas kesehatan di Indonesia masih kurang memadai sehingga tidak jarang pasien Covid-19 tidak bisa dirujuk dan harus ditangani di puskesmas atau RS biasa dengan banyak keterbatasan. Meskipun demikian, dokter umum dapat melakukan beberapa penanganan dasar. Sebelumnya, penanganannyaSebelumnya, dokter umum harus mengetahui terlebih dahulu manifestasi Covid-19 pada empat organ, yaitu paru-paru, darah, jantung, dan saluran cerna. Di paru-paru, biasanya terjadi pneumonia dan dapat berakhir menjadi acute respiratory distress syndrome (ARDS). Pada darah, dapat terjadi hiperkoagulasi, sedangkan pada jantung dapat terjadi kardiomiopati. Terakhir, pasien Covid-19 juga dapat mengalami diare.

Sebelum melakukan penanganan, dokter harus meminta informed consent tertulis dari pasien atau keluarga pasien setelah menjelaskan keadaan pasien dan tindakan yang akan dilakukan dengan jelas. Dengan demikian, dokter dapat mencegah potensi tuntutan serta mengajak pasien untuk lebih kooperatif dalam upaya penyembuhannya.

Penanganan pertama yang bisa dilakukan adalah menjaga darah pasien dari hiperkoagulasi atau DIC (disseminated intravascular coagulation). Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan antikoagulan seperti heparin setelah pasien menjalani pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, dan trombosit. Namun, metode tersebut kurang disarankan karena kurangnya pemeriksaan penunjang. Selanjutnya, komorbiditas pasien juga perlu diatasi. Pasien Covid-19 dengan komorbiditas DM atau obesitas biasanya menderita Covid-19 derajat berat.

Terapi steroid yang dapat diberikan kepada pasien, yaitu deksametason dosis kecil (0,5 mg). Selain steroid, obat antiviral dan vitamin juga perlu diberikan. Sejauh ini, Avigan (favipiravir) terbukti paling efektif untuk Covid-19, tetapi obat antiviral lainnya seperti oseltamivir juga bisa diberikan. Vitamin yang dapat diberikan adalah vitamin D, C, dan zinc.

Perlu diingat, pasien Covid-19 yang sudah sembuh dapat terinfeksi lagi. Dari seluruh orang yang terinfeksi, hanya 30% yang berhasil membentuk antibodi dan hanya beberapa persen yang berhasil membentuk neutralizing antibody. Oleh karena itu, vaksin tetap dibutuhkan untuk membangun imunitas terhadap Covid-19 dan mencegah penyebaran lebih luas.

Narasumber:
Nama: Dr. Dewiyana Andari Kusmana, SpP(K)
Jabatan: Ketua Tim DOTS RSPAD Gatot Soebroto
Email : dewiyana.ku@gmail.com

Share your thoughts