Transplantasi Ginjal: Bukan Hanya Resipien yang Perlu Perhatian

transplantasi ginjal

Membahas upaya peningkatan kualitas hidup sang donor

 

Keberlangsungan prosedur transplantasi sangatlah bergantung kepada para donor organ. Tanpa kontribusi mereka, transplantasi tidak dapat berjalan sama sekali. Oleh karena itu, salah satu cakupan dari ilmu transplantasi adalah terkait kondisi dan perlakuan terhadap donor organ. Salah satu aspek yang diperhatikan adalah quality of life atau kualitas hidup seorang donor setelah menyerahkan organ untuk ditransplantasikan kepada resipien. Mengenai topik ini, Jakarta Urology Medical Update (JUMP) 2021 membawakan sebuah sesi mengenai aspek donor pada transplantasi ginjal, yang dilaksanakan pada tanggal 20 Juni 2021, yaitu hari ke-6 JUMP 2021, secara daring dengan moderator dr. Fina Widia, Sp.U.

Salah satu topik pada sesi Transplantation Urology ini adalah terkait kualitas hidup seorang donor pasca operasi minimal invasif (MIS/minimal invasive surgery). Topik ini dibawakan oleh narasumber dari Departemen Urologi FKUI-RSCM, yaitu Prof. dr. Chaidir A. Mochtar, Sp.U(K), PhD dan dimulai dengan subtopik “How to start?” untuk menjelaskan bahwa pelatihan psikomotor dan kognitif menjadi salah satu langkah penting dalam menjamin sebuah standar pelayanan kesehatan yang baik. Untuk itu, Indonesia telah menjalankan pelatihan kolaborasi dengan Jepang untuk mensertifikasi pelatih (trainer) dan peserta pelatihan (trainee) terkait teknik nefrektomi donor laparoskopik (LDN/laparoscopic donor nephrectomy) dengan peminat yang telah melebihi kuota.

Subtopik “Is it worth the sweat?” membahas manfaat LDN (sebagai operasi minimal invasif) dibandingkan operasi terbuka. Ketika dibandingkan dengan operasi terbuka pada suatu studi uji acak terkontrol, LDN ternyata memakan waktu operasi yang lebih lama dengan waktu iskemik hangat yang lebih lama hampir dua kali lipat. Selain itu, angka pemulihan pascapembedahan LDN juga tidak lebih unggul dibandingkan bedah terbuka. Meski demikian, LDN memiliki angka mortalitas perioperatif yang relatif kecil (3,1 per 1000). Selain itu, operasi laparoskopik juga lebih unggul pada aspek durasi waktu untuk kembali mobilisasi normal dan waktu hingga dipulangkan. Donor yang menjalani operasi laparaskopi dapat kembali kerja dalam waktu 33 hari, dibandingkan dengan 43 hari yang diperlukan kelompok pembedahan terbuka. Selain itu, estetika juga diperoleh dengan lebih baik pada kelompok laparaskopi. Pasien juga cenderung lebih memilih menggunakan prosedur laparaskopik jika akan dilakukan prosedur yang sama lagi. Pertimbangan lainnya terletak pada segi biaya, dengan operasi laparoskopik memiliki biaya yang lebih kecil ketimbang operasi terbuka.

Chaidir menutup topik ini dengan menekankan kembali  pentingnya pengetahuan dan keterampilan sebagai faktor utama dalam menjamin keberhasilan prosedur laparoskopik, dengan sertifikasi dan edukasi formal sebagai metode pencapaian tujuan tersebut. LDN dapat menghasilkan efikasi yang sama dengan operasi terbuka dengan tingkat keamanan yang relatif sama, namun menawarkan banyak keuntungan lainnya. Preferensi terhadap metode tersebut menandakan bahwa laparaskopi adalah prosedur yang diterima secara lebih luas oleh donor.

Penulis: Benedictus Ansell Susanto
Editor: Gabrielle Adani

Share your thoughts