Vaksin Sinovac: Akhir Kisah Covid-19?

“Datang dengan penuh harapan, tetapi menyisakan seribu pertanyaan

vaksin

Genap setahun sudah pandemi Covid-19 mengepung Indonesia. Tak kurang dari 35.000 jiwa terenggut akibat infeksi virus corona itu. Secercah harapan kemudian muncul setelah vaksin Covid-19 berhasil ditemukan dan siap diberikan pada masyarakat. Namun, kehadirannya justru dipenuhi sejumlah kontroversi.

Mengenal Sinovac, Vaksin Covid-19 Pilihan

CoronaVac, atau lebih dikenal sebagi Sinovac, merupakan vaksin Covid-19 yang dipilih pemerintah Indonesia untuk program vaksinasi massal. Sinovac telah melewati uji klinik fase ke-1 dan 2 di Tiongkok, serta fase ke-3 di Indonesia, Brazil, dan Turki. Biofarma yang bekerja sama dengan Universitas Padjajaran bertanggung jawab untuk uji klinik fase ke-3 Sinovac di Indonesia.  Sejatinya, Kementerian Kesehatan telah menetapkan enam jenis vaksin Covid-19 yang aman digunakan. Namun, hanya Sinovac yang berhasil memenuhi syarat penggunaan vaksin secara luas di Indonesia. “Ada tiga syarat vaksin yang ideal untuk Indonesia, yaitu efektif, aman, dan halal,” terang Dr. dr. Erlina Burhan, MSc, SpP(K), Ketua Pokja Infeksi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.

Dari segi keamanan, vaksin Sinovac telah dinyatakan aman dan mengantongi Emergency Use Authorization (EUA) atau persetujuan penggunaan obat darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sejak 11 Januari 2021. Izin tersebut berhasil didapatkan Sinovac atas dasar hasil uji klinik fase ke-3 yang menunjukkan efikasi yang cukup baik dengan kejadian efek samping minimal. Biofarma juga mengakui bahwa komposisi vaksin berupa virus yang telah dilemahkan sudah dikaji betul oleh pihak mereka sehingga keamanan vaksin tidak perlu diragukan lagi. Meskipun demikian, BPOM akan tetap melakukan pengawalan penuh.

Sinovac juga telah menerima sertifikasi halal dengan efektivitas yang cukup menjanjikan. “Sertifikat halalnya sudah keluar dari MUI, efikasinya juga sudah diumumkan sebesar 65.3%. Artinya orang yang menerima vaksin memiliki risiko terhindar dari penyakit Covid-19 kurang lebih 3 kali lipat dibandingkan orang yang tidak divaksin,” jelasErlina. Imunogenisitas atau kemampuan Sinovac dalam memicu respons kekebalan tubuh juga tergolong baik dengan hasil seropositif mencapai 99,74% pada hari ke-14 pascapenyuntikan dan 99,23% setelah tiga bulan pascapenyuntikan. Tak hanya itu, Sinovac juga diketahui memiliki efektivitas yang cukup baik terhadap varian mutasi virus SARS-CoV-2 di Inggris, meskipun efektivitasnya terhadap mutasi virus dari Afrika Selatan masih perlu diwaspadai lebih lanjut.

Tantangan dalam Implementasi Vaksinasi Massal

Meskipun dinilai aman, Sinovac tidak lepas dari sejumlah kritikan. Angka efikasi Sinovac yang hanya 65.3% dinilai meragukan jika dibandingkan dengan vaksin Pfizer dengan efikasi 95%. Menanggapi hal tersebut, BPOM menegaskan bahwa efikasi tersebut sudah melampaui standar yang ditetapkan oleh WHO. “Merujuk pada panduan WHO dalam pemberian EUA vaksin Covid-19, standar efikasi minumum yang diperbolehkan adalah 50%,” tegas Noorman Effendi, SP., M.Si, Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat BPOM.

Tingkat efikasi tersebut juga dinilai wajar mengingat banyaknya faktor yang menentukan efikasi sebuah vaksin. Efikasi dalam uji coba akan bernilai lebih tinggi apabila uji dilakukan terhadap subjek yang rentan terpapar virus. “Kalau di Bandung, itu masyarakat umum yang diteliti dan ikut penelitian, dan yang ikut penelitian itu relatif patuh dengan protokol kesehatan. Jadi kalau dilihat efikasi rendah itu wajar saja,” terang Prof. Dr. dr. Iris Rengganis SpPD-KAI, Ketua Umum Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia. Ia juga mencontohkan bahwa efikasi hasil uji klinik vaksin Sinovac di Brazil mencapai 78% karena menggunakan subjek tenaga kesehatan yang rentan terkena Covid-19. Tantangan lainnya ialah ketersediaan vaksin yang masih terbatas. Vaksinasi diharapkan dapat memunculkan kekebalan kelompok (herd immunity) ketika 70% penduduk Indonesia tervaksinasi. “Vaksinnya belum cukup jumlahnya, mau vaksin 181 juta orang, tetapi baru ada tiga juta dosis,” ungkap Erlina. Oleh karena itu, pemberian vaksin diutamakan kepada individu yang tergolong dalam prioritas utama, seperti tenaga kesehatan, TNI, Polri, serta tokoh masyarakat. Saat ini, BPOM juga mengaku sedang mengusahakan dan mengawal akses vaksin tambahan selain Sinovac. “Dalam waktu dekat, pengadaan akses vaksin Pfizer dan AstraZeneca akan diadakan oleh pemerintah melalui kerja sama multilateral COVAX”, terang Noorman.

Tantangan terbesar justru berupa ketidakpercayaan masyarakat terhadap vaksin akibat munculnya sejumlah berita bohong atau hoaks antivaksin di media sosial. “Banyak sekali hoaks beredar, membuat orang yang tidak banyak membaca dan hanya mendengar dari media sosial menjadi takut untuk divaksin,” ujar Erlina. Pemerintah kemudian menyiapkan berbagai strategi komunikasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang vaksin, seperti menyiarkan iklan layanan masyarakat, mengadakan talkshow, pemberitaan di media massa, hingga menggandeng influencer untuk melakukan promosi di media sosial.

Rencana Program Vaksinasi ke Depannya

Vaksinasi Covid-19 di Indonesia sudah dimulai sejak 14 Januari 2021 lalu dan direncanakan berlangsung hingga Maret 2022. Perlu diketahui bahwa vaksinasi tidak menjadi penghalang proses penelitian penemuan vaksin dalam negeri karena Indonesia sejatinya masih membutuhkan sekitar 400 juta dosis agar setiap orang mendapatkan dua dosis vaksin demi mencapai herd immunity. Kebutuhan vaksin yang sangat besar tentu tidak dapat dipenuhi hanya dengan mengandalkan satu produk saja. Saat ini, vaksin produksi AstraZeneca sedang dalam proses pengajuan pendaftaran EUA ke BPOM dan vaksin produksi Novavax direncanakan didaftarkan ke BPOM pada Februari atau Maret 2021.

Sebagai penutup, adanya vaksinasi tidak menggugurkan kewajiban masyarakat untuk tetap menjalankanprotokol kesehatan. Oleh sebab itu, masyarakat tidak serta merta dapat berkerumun dan menanggalkan masker hingga pemerintah menetapkan pandemi Covid-19 telah berakhir. Seluruh penduduk harus tetap mengikuti gerakan 5M, yakni memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilisasi dan interaksi.

Lihat juga topik pendamping di sini.

Penulis:

Alexander Rafael Satyadharma

Ariestiana Ayu Ananda Latifa

Kelvin Kohar

Laurentia

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius