China Beralih Ke Vaksin COVID-19 lain karena Sinovac Tidak Manjur, Apakah Benar?

Media sosial WhatsApp sedang diramaikan oleh klaim bahwa vaksin Covid-19 yang paling banyak digunakan di Indonesia, Sinovac, tidak manjur. Apakah klaim tersebut benar?

(Sumber: covid19.go.id)

Berbagai vaksin Covid-19 telah beredar di masyarakat selama tahun kedua pandemi ini. Sejauh ini, vaksin Covid-19 yang paling banyak disuntikkan baik kepada masyarakat Indonesia maupun Tiongkok adalah Sinovac, sebuah vaksin racikan perusahaan CoronaVac yang berpusat di Tiongkok. Meski begitu, terdapat klaim yang menyatakan bahwa Tiongkok beralih ke vaksin Covid-19 lain, seperti Pfizer dan Moderna, karena vaksin Sinovac dianggap tidak manjur.

Kemanjuran suatu vaksin dinilai menggunakan sebuah parameter, yaitu efikasi. Efikasi adalah  kemampuan untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Dalam konteks vaksinasi Covid-19, efikasi berarti kemampuan vaksin untuk mencegah seseorang mengalami gejala Covid-19.

Vaksin Covid-19 Pfizer dan Moderna memang banyak digunakan di berbagai negara karena efikasi kedua vaksin tersebut cukup tinggi. Menurut WHO, efikasi vaksin Moderna mencapai 94,1% yang tercapai pada hari ke-14 setelah vaksinasi, sedangkan efikasi vaksin Pfizer mencapai 95% terhadap infeksi SARS-CoV-2 yang bergejala.

Vaksin Sinovac Covid-19 digadang-gadang tidak manjur dan tidak efektif. Namun, menurut WHO, efikasi dari vaksin Sinovac mencapai 51% terhadap infeksi SARS-CoV-2 yang bergejala, 100% terhadap infeksi dengan gejala berat, dan 100% terhadap infeksi yang membutuhkan rawat inap 14 hari setelah penerimaan dosis ke-2. Angka efikasi tersebut diperoleh dari uji klinis fase III yang dilakukan di Brasil, melibatkan pemberian dua dosis vaksin Sinovac dengan jarak 14 hari antara dosis pertama dan kedua.

Dibandingkan dengan Pfizer dan Moderna, efikasi vaksin Sinovac memang terlihat lebih rendah. Akan tetapi, bukan berarti vaksin Sinovac ini tidak manjur. WHO masih merekomendasikan vaksin Sinovac untuk melawan pandemi Covid-19 ini. 

Apakah Tiongkok beralih ke vaksin lain?

Klaim bahwa Tiongkok berpindah ke vaksin Covid-19 selain Sinovac ini telah dibantah oleh pihak Kedutaan Besar Tiongkok di Jakarta, Yi Fanping. Menurutnya, Tiongkok masih menggunakan vaksin Sinovac dan Sinopharm. Berdasarkan data dari Nature, Sinovac juga masih menjadi vaksin yang paling banyak digunakan di Tiongkok, disusul oleh Pfizer dan Sinopharm.

THE RACE TO VACCINATE. Chart showing that China’s CoronaVac and Sinopharm jabs account for nearly half of all doses.

Dosis vaksin Covid-19 yang digunakan oleh Tiongkok berdasarkan merk vaksin
(Sumber: nature.com)

Kesimpulannya, klaim bahwa vaksin Sinovac tidak manjur dan Tiongkok beralih ke vaksin Covid-19 selain Sinovac adalah hoaks. Efikasi Sinovac tergolong baik sehingga WHO masih mengandalkan vaksin tersebut untuk mengakhiri pandemi. Sinovac pun masih menjadi vaksin Covid-19 yang paling banyak digunakan di Tiongkok dan juga Indonesia.

Referensi:

  1. https://covid19.go.id/p/hoax-buster/salah-sinovac-tidak-manjur-china-pindah-ke-pfizer-dan-moderna
  2. https://www.who.int/news-room/feature-stories/detail/who-can-take-the-pfizer-biontech-covid-19–vaccine
  3. https://www.who.int/news-room/feature-stories/detail/the-moderna-covid-19-mrna-1273-vaccine-what-you-need-to-know
  4. https://www.who.int/news-room/feature-stories/detail/the-sinovac-covid-19-vaccine-what-you-need-to-know
  5. https://www.nature.com/articles/d41586-021-02796-w

Penulis: Engelbert Julyan Gravianto
Editor: Albertus Raditya Danendra

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius