Virtual Reality dalam Medis: Teknik Terbaru Minimalisasi Nyeri Pada Anak

VR

Efektifkah penggunaan VR dalam mengurangi nyeri dan kecemasan anak selama prosedur medis?

Virtual reality (VR) merupakan salah satu perkembangan teknologi terbaru yang kini disorot publik. Salah satu fitur VR, yaitu membuat penggunanya dapat berinteraksi secara dinamis dengan lingkungan 3 dimensi artifisial, menjadi daya tarik utama dari teknologi ini. Biayanya yang relatif murah juga membuat VR semakin mudah diterima dan dipakai secara luas. Hal ini pula yang menyebabkan bidang medis mulai mengadaptasi teknologi VR, contohnya sebagai metode untuk mengurangi rasa nyeri pada pasien selama menjalani prosedur medis.

Beberapa prosedur medis, seperti prosedur invasif pada gigi, port access, kemoterapi, pengambilan darah, dan lainnya dapat menyebabkan rasa nyeri. Rasa nyeri yang timbul selama prosedur ini mungkin memicu kecemasan ataupun stres psikologis pada pasien. Tidak hanya itu, ketidaknyamanan yang dirasakan pasien juga berpotensi menimbulkan serangkaian masalah lanjutan, seperti kesembuhan yang terhambat, gangguan makan dan tidur, hingga gejala post traumatik. Dalam hal ini, kelompok anak disebut lebih rentan terhadap kondisi tersebut (Eiljers et al, 2019). Karena itulah, diperlukan metode intervensi yang dapat mereduksi kemungkinan munculnya rasa cemas dan nyeri pada anak.

Intervensi yang mendistraksi atensi pasien menjadi metode yang umum digunakan untuk mencegah timbulnya nyeri selama prosedur medis. Metode ini sudah lama dipakai untuk mendistraksi atensi dan terbukti efektif dalam mereduksi rasa nyeri. Sebelumnya, pemutaran musik dan film digunakan sebagai alat untuk mengalihkan atensi pasien. Dengan adanya perkembangan teknologi, VR kini mulai sering dipakai dalam prosedur medis yang menyakitkan, terutama pada anak.

Efek reduksi nyeri dalam metode distraksi ini didasarkan dengan teori “terbatasnya kapasitas atensi manusia”. Persepsi nyeri merupakan hal yang membutuhkan atensi. Pengalihan atensi, seperti dalam penggunaan VR, memiliki efek memperlambat persinyalan stimulus nyeri. Meski begitu, VR tidak menginterupsi jaras persinyalan nyeri pada serabut saraf. Distraksi VR hanya bekerja pada persepsi nyeri, baik secara langsung dan tidak langsung, melalui atensi, emosi, konsentrasi, memori, serta beberapa fungsi luhur lainnya.

Efektivitas VR dalam mereduksi nyeri dan kecemasan telah banyak dibuktikan. Sebuah literatur menyebutkan adanya penurunan skor rasa takut dan cemas pada pasien yang menggunakan VR saat pengambilan darah (Gerçeker et al, 2019).  Selanjutnya, Arane et al (2017) menyatakan adanya reduksi ≥50% aktivitas terkait nyeri pada 5 daerah otak pada individu sehat selama menggunakan VR. Kedua hal ini menjadi contoh bukti adanya dampak VR dalam meminimalisir rasa nyeri dan kecemasan pasien.

Sayangnya, beberapa studi menuliskan pula bahwa efektivitas penggunaan VR dipengaruhi oleh faktor lainnya. Faktor pertama yang memengaruhi metode ini adalah usia pasien, karena distraksi VR disebut lebih efektif pada anak usia ≤12 tahun. Selanjutnya, studi mengenai efek penggunaan VR dalam anastesi lokal prosedur dental melaporkan bahwa pasien perempuan mengalami reduksi nyeri yang lebih rendah. Selain itu, konten VR yang ditampilkan juga akan berpengaruh terhadap rasa nyeri pasien. Semakin besar distraksi atensi yang dihasilkan konten VR, maka semakin besar pula reduksi nyeri yang dialami anak.

Dari pembahasan di atas, penggunaan VR memang terbukti efektif untuk meminimalisir nyeri  dan rasa cemas akibat prosedur medis pada anak. Hal ini menyebabkan beberapa jurnal merekomendasikan penggunaan VR pada anak dibandingkan metode distraksi lainnya. Meski demikian, faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas metode VR perlu juga dipertimbangkan. Dengan begitu, diharapkan efektivitas VR sebagai metode distraksi atensi dapat ditingkatkan. nada

 

 

Referensi:

  1. Gerçeker GO, Ayar D, Ozdemir EZ, Bektas M. Effects of virtual reality on pain, fear and anxiety during blood draw in children aged 5–12 years old: A randomised controlled study. J Clin Nurs. 2020;29:1151-1161.
  2. Falemban OM, Alshamrani RM, Aljeddawi DH, Bagher SM. Efect of virtual reality distraction on pain and anxiety during infltration anesthesia in pediatric patients: a randomized clinical trial. BMC Oral Health. 2021;21:321.
  3. Arane K, Behbodi A, Glodman RD. Virtual reality for pain and anxiety management in children. Canadian Family Physician. 2017;63:932-934.
  4. Eijlers R, et al. Systematic Review and Meta-analysis of Virtual Reality in Pediatrics: Effects on Pain and Anxiety. Anesthesia & Analgesia. 2019;129(5): 1344-53.

Penulis: Nada Irza

Editor: Laurentia

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius