Waspadai KIPI, Si Tamu Tak Diundang

Kejadian tak terduga pascavaksinasi, diam-diam mengancam nyawa

pascavaksinasi

Dalam program terapi dan vaksinasi, kondisi yang tidak terduga dapat saja terjadi. Kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) merupakan sebuah kondisi atau efek simpang yang dapat timbul setelah pemberian imunisasi. Sinovac, salah satu vaksin Covid-19 juga tidak luput dari kemungkinan terjadinya KIPI. Saat ini, para ahli di Indonesia sedang memberikan perhatian mengenai KIPI dalam upaya melawan pandemi Covid-19.

Terdapat dua jenis KIPI yang dapat diamati setelah pemberian vaksin, yakni kejadian lokal dan sistemik. Kondisi lokal pascavaksinasi dapat meliputi luka, bengkak, serta kemerahan pada daerah bekas suntikan. Sementara itu, kejadian sistemik dapat mencakup sakit kepala, demam, diare, mual, muntah, dan sebagainya. Beratnya gejala yang terjadi pun dapat beragam antarindividu satu dengan yang lainnya. Secara keseluruhan, KIPI yang terjadi umumnya berderajat ringan hingga sedang. Frekuensi efek samping berat yang dilaporkan hanya sekitar 0,1-1%

KIPI bisa terjadi pada siapapun dan tidak memandang kelompok umur tertentu. Dengan demikian, persiapan antisipasi KIPI harus dilakukan, baik dari sisi pasien maupun vaksinator (perawat, bidan, maupun dokter). “Orang yang mau diberikan vaksin itu bukan orang sakit, dia harus sehat. Kadang orang demam sedikit saja tidak boleh vaksinasi,” terang Iris. Orang yang akan divaksinasi juga harus memperhatikan kondisinya yang harus bebas dari sejumlah penyakit atau komorbiditas tertentu. Di samping itu, tenaga medis juga harus mempersiapkan diri untuk situasi terburuk. Contohnya, untuk mengantisipasi terjadinya syok anafilaksis, vaksinator diharuskan untuk mempersiapkan penawar, seperti adrenalin. “Harus sedia payung sebelum hujan. Semua penawar-penawar bila terjadi reaksi itu semua harus ada di depan mata kita,” ujar Iris.

Setelah divaksinasi, pasien tidak boleh langsung pulang, melainkan harus dipantau ketat setidaknya 30 menit pascavaksinasi. “Kalau enggak ada apa-apa, pasien boleh pulang. Tapi harus pesan, nanti ada reaksi lambat mungkin di rumah,” jelas Iris. Oleh sebab itu, orang yang baru menerima vaksin harus dipantau selama 28 hari untuk melihat apakah terjadi reaksi lambat atau tidak.

Lihat juga pembahasan topik utama artikel ini di sini.

Penulis:

Alexander Rafael Satyadharma

Ariestiana Ayu Ananda Latifa

Kelvin Kohar

Laurentia

Share your thoughts

Yuk berlangganan SKMA!

Anda akan memperoleh berita dan artikel terkini mengenai isu, perkembangan, dan tips-tips seputar kedokteran dan kesehatan.

Klik link berikut untuk berlangganan SKMA digital!

http://linktr.ee/medaesculapius